Gempur Stunting, Puskesmas Pejagoan dan SPPG Beri Sosialisasi Gizi untuk Bumil & Balita
Gempur Stunting, Puskesmas Pejagoan dan SPPG Beri Sosialisasi Gizi untuk Bumil & Balita
PEJAGOAN – Puskesmas Pejagoan memperkuat komitmennya dalam menyukseskan program nasional melalui kolaborasi strategis bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kerja sama ini diwujudkan melalui rangkaian penyuluhan gizi intensif bagi kelompok B3 (Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita) yang dilaksanakan di berbagai Posyandu wilayah Kecamatan Pejagoan.
Mengenal Peran SPPG dalam Program MBG
Sebagai unit operasional di bawah Badan Gizi Nasional, SPPG memegang peran krusial dalam mengelola, menyiapkan, serta mendistribusikan makanan bergizi yang aman dan higienis. Upaya ini merupakan pilar utama penyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan bagi siswa, ibu hamil, serta ibu menyusui di seluruh Indonesia.
Jadwal dan Jangkauan Wilayah
Sebanyak enam unit SPPG di wilayah Kecamatan Pejagoan telah bergerak serentak sejak 9 Maret 2026. Hingga saat ini, penyuluhan telah sukses menyambangi desa-desa berikut:
- Desa Logede
- Desa Kebulusan
- Desa Kebagoran
- Desa Kuwayuhan
- Desa Kedawung
- Desa Pejagoan
Program ini akan terus berlanjut hingga akhir Maret, dengan jadwal pekan depan menyasar Desa Pengaringan, Prigi, dan Watulawang.
Fokus Materi: Dari Isi Piringku Hingga Pencegahan Stunting
Penyuluhan disampaikan langsung oleh para Ahli Gizi dari masing-masing SPPG. Materi yang diangkat berfokus pada 4 Pilar Gizi Seimbang, meliputi:
- Isi Piringku: Panduan porsi makan harian yang ideal.
- Ibu Hamil & Menyusui: Pentingnya asupan asam folat, zat besi, dan nutrisi pendukung kualitas ASI.
- Balita & Stunting: Strategi pencegahan stunting melalui kecukupan protein, vitamin, dan mineral.
- Manfaat MBG: Penjelasan mengenai dampak positif Program Makan Bergizi Gratis bagi kesehatan keluarga jangka panjang.
Menyelaraskan Ekspektasi dan Solusi Lapangan
Selain memberikan edukasi, kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk menyelaraskan ekspektasi masyarakat dengan standar gizi nasional. Masyarakat diberikan ruang untuk menyampaikan kendala lapangan secara langsung kepada tenaga ahli gizi, sehingga setiap hambatan dapat segera dicarikan solusinya. Rif
