DOKTER INTERNSIP: STUNTING DAN TBC HUBUNGAN YANG KOMPLEKS
DOKTER INTERNSIP: STUNTING DAN TBC HUBUNGAN YANG KOMPLEKS
Guna meningkatkan kompetensi dokter internsip, Puskesmas Pejagoan mengadakan presentasi laporan kasus, Sabtu (19/07/2025). Program internsip dokter adalah tahap pemahiran dan pemandirian bagi dokter baru lulus pendidikan untuk menyelaraskan hasil pendidikan dengan kondisi di lapangan. Program ini bertujuan untuk memantapkan kompetensi dokter sebelum mereka berpraktik secara mandiri.
Terdapat empat dokter internsip grup 1 yang bergabung dengan Puskesmas Pejagoan yaitu dr. Fauzaan Asrul S., dr. Wilma Kartikaning T., dr. Wimakrifah Istiqomah dan dr. Raditya Irfan P. Ke empatnya telah melaksanakan program intersip sejak Februari 2025. Interaksi pun tercipta dengan kehadiran dr. Timbul Pranoto M.Sc., Sp.KKLP, dr. Arum Laksmita Dewi, dr. Merry Pribadiani dan Catur Hernawati selaku pemangku program TBC.
Siang tadi ke empat dokter intersip mempresentasikan laporan kasus penyakit. Fokus laporan kasus kali ini adalah Tuberkulosis dan Stunting. Hasil presentasi yang disampaikan terungkap bahwa hubungan antara tuberkulosis atau TBC dan stunting adalah hubungan yang kompleks dan saling memperburuk. Keduanya memiliki dampak negatif pada kesehatan anak, terutama dalam hal pertumbuhan dan perkembangan.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Kekurangan gizi ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh anak melemah. Akibatnya, anak stunting menjadi lebih rentan terhadap berbagai infeksi, termasuk TBC, karena tubuhnya tidak mampu melawan kuman Mycobacterium tuberculosis dengan efektif.
Berbagai temuan di lapangan menunjukan ada beberapa faktor anak rentan menderita TBC seperti faktor ekonomi, lingkungan dan minimnya pengetahuan akan penyakit TBC. Hal ini diperparah dengan enggannya pasien untuk segera mendapatkan pengobatan jika terjadi keluhan penyakit.
Guna memutus lingkaran ini, hasil presentasi tersebut terdapat poin penting untuk melakukan upaya pencegahan dan penanganan yang terintegrasi. Mengentaskan stunting dengan pemberian gizi seimbang sejak masa kehamilan dan balita, sanitasi yang baik, dan imunisasi lengkap. Pencegahan TBC dengan Vaksinasi BCG, deteksi dini dan pengobatan TBC yang tuntas, serta pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi anak yang kontak erat dengan penderita TBC.
Selain itu diperlukan manajemen terpadu perlu ditingkatkan untuk mengobati TBC pada anak yang stunting dengan disiplin dan memastikan asupan gizi yang kuat selama pengobatan untuk mendukung pemulihan dan pertumbuhan optimal. (the wish)
