DI BALIK ANGKA IMUNISASI: MENGAPA MASIH ADA ANAK YANG BELUM TERLINDUNGI?
DI BALIK ANGKA IMUNISASI: MENGAPA MASIH ADA ANAK YANG BELUM TERLINDUNGI?
Siti Nur Azizah¹, Aprilia Dwi Kusuma Astuti¹, Arini Setiyawati¹, Nurul Zukhruful Muslimah¹, Musnahir Ando¹, Achmad Bintang Dwi Prastiyo¹, Nur Chayati²
¹Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
²Dosen Program Studi Magister Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Cakupan Imunisasi Membaik, tetapi Tantangan Belum Selesai
Imunisasi merupakan upaya penting untuk mencegah penyakit menular dan komplikasi berat yang sebenarnya dapat dihindari dengan vaksin. Kementerian Kesehatan RI (2026) melaporkan cakupan imunisasi dasar lengkap pada tahun 2025 mencapai 80,2%, namun sekitar 960.000 anak tercatat belum pernah menerima imunisasi dasar sama sekali (zero-dose). Padahal, imunisasi bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh, melindungi anak dari penyakit seperti tuberkulosis, hepatitis B, polio, difteri, campak, rubella, hingga meninggal akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Selain itu imunisasi juga dapat melindungi masyarakat sekitar, termasuk bayi dan orang yang belum dapat divaksin karena kondisi kesehatan tertentu.
Mengapa masih ada anak yang tidak diimunisasi?
Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan alasan anak tidak mendapatkan imunisasi antara lain keluarga tidak mengizinkan (47%), khawatir terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (45%), tidak mengetahui jadwal imunisasi (23%), dan menganggap imunisasi tidak penting (22%). Selain itu, kurangnya informasi dan hoaks mengenai keamanan dan kandungan vaksin juga memperkuat keraguan. Pertimbangan keagamaan dan kehalalan vaksin juga dapat memicu penolakan terutama bila informasi tentang bahan dan proses pembuatan vaksin tidak dijelaskan secara memadai.
Kekhawatiran terhadap efek samping perlu dipahami dengan bijak.
Nyeri atau pegal pada lokasi suntikan merupakan reaksi yang wajar setelah imunisasi. Hal ini dapat disebabkan oleh respons sistem imun maupun iritasi lokal akibat jarum atau vaksin yang diberikan. Nyeri dan bengkak dapat dikurangi dengan kompres hangat selama 10–15 menit. Jika diperlukan, obat pereda nyeri dapat diberikan sesuai anjuran, sehingga tidak perlu memijat area bekas suntikan agar tidak memperparah iritasi. Selain nyeri, beberapa jenis vaksin juga dapat menimbulkan demam ringan, pembengkakan pada lokasi suntikan, atau membuat anak menjadi lebih rewel. Sementara itu, reaksi berat seperti alergi berat sangat jarang terjadi. Oleh karena itu, kekhawatiran terhadap efek samping perlu diimbangi dengan pemahaman bahwa imunisasi memiliki manfaat penting dalam melindungi anak dari berbagai penyakit yang lebih berbahaya (Kemenkes RI, 2024).
Berpikir rasional, lengkapi imunisasi anak sesuai jadwal
Dengan demikian, berpikir rasional mengenai imunisasi bukan berarti menganggap vaksin sama sekali tidak memiliki risiko, tetapi membandingkan manfaat, kondisi individu, serta risiko penyakit apabila tidak mendapatkan imunisasi berdasarkan informasi ilmiah yang dapat dipercaya. Mari lengkapi imunisasi anak sesuai jadwal yang dianjurkan, tanyakan kekhawatiran terhadap efek imunisasi kepada tenaga kesehatan dan pastikan informasi berasal dari sumber terpercaya seperti situs resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Satu imunisasi yang diberikan hari ini dapat menjadi langkah penting untuk melindungi anak, keluarga, dan masyarakat dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Sumber:
Abenova, M., Shaltynov, A., Jamedinova, U., & Semenova, Y. (2024). Worldwide Child Routine Vaccination Hesitancy Rate among Parents of Children Aged 0 – 6 Years?: A Systematic Review and Meta-Analysis of Cross-Sectional Studies. 1–20.
Kementrian Kesehatan RI. 02 Mei 2026. Kemenkes Perkuat Imunisasi Nasional, Fokus Jangkau Anak Zero-Dose. Diakses tanggal 3 Oktober 2026 pada laman https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-perkuat-imunisasi-nasional-fokus-jangkau-anak-zero-dose
Kementrian Kesehatan RI. 02 Juli 2024. Imunisasi Tidak Merusak Sel dan DNA. Diakses tanggal 4 Oktober 2026 pada laman https://kemkes.go.id/id/imunisasi-tidak-merusak-sel-dan-dna
